Sunday, June 9, 2013

POS KESEHATAN PESANTREN

TUGAS
MATA KULIAH PENGEMBANGAN DAN PENGORGANISASIAN MASYARAKAT “POS KESEHATAN PESANTREN”

                                                                           


  



Disusun Oleh:
Kadek Agus S
  

STIKES HAKLI
PRODI S1 KESEHATAN MASYARAKAT SEMESTER VI
TAHUN AJARAN 2012/2013





BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Kesehatan bagi sebagaian penduduk yang terbatas kemampuannya serta yang berpengetahuan dan berpendapatan rendah masih perlu diperjuangkan secara terus menerus dengan cara mendekatkan akses pelayanan kesehatan dan memberdayakan kemampuan mereka. Inti kegiatan Poskestren adalah memberdayakan masyarakat pesantren baik santri/wati maupun guru agar mau dan mampu untuk hidup sehat. Konsep pemberdayaan masyarakat pesantren ini adalah memperkenalkan mereka akan permasalahan yang mereka hadapi yang dilakukan oleh mereka sendiri. Sehingga masalah yang ditemukan benar-benar dirasakan dan disepakati oleh mereka.
          Dibeberapa wilayah puskesmas ada diantaranya yang dekat dengan pesantren dan mungkin masih dalam cakupan puskesmas tersebut, sehingga diharapkan setiap pesantren bisa mendirikan pos kesehatan sendiri atau poskestren  yang diharapkan menjadi penggerak pemberdayaan kesehatan pesantren. Menyimak kenyataan tersebut, diperlukan upaya membuat terobosan yang benar-benar memiliki daya ungkit bagi meningkatnya derajat kesehatan bagi seluruh masyarakat pesantren, dan Puskesmas itu sendiri sebagai pusat penggerak pemberdayaan kesehatan masyarakat diwilayah kerjanya, untuk tahapannya bisa dilakukan beberapa pengerahan yaitu dengan  mencoba mengembangkan langkah-langkah pendekatan edukatif, yaitu upaya mendampingi (memfasilitasi) mereka untuk menjalani proses pembelajaran yang berupa proses pemecahan masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya. Dengan mengadopsi kegiatan pengembangan desa siaga, yang diterapakan untuk mengembangkan poskestren di pesantren-pesantren yang ada di lingkungan ruang lingkup kerja Puskesmas.

  
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Poskestren
POSKESTREN adalah Pesantren yang memiliki kesiapan dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah- masalah kesehatan, secara mandiri sesuai dengan kemampuannya.

B.       Tujuan Poskestren
Tujuan Umum
Terwujudnya pesantren yang sehat, serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan diwilayah pesantrennya.

Tujuan Khusus
     Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran santri dan guru tentang pentingnya kesehatan.
     Meningkatnya santri dan guru yang melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat.
     Meningkatnya kesehatan lingkungan di pesantren.
     Meningkatnya kemampuan dan kemauan santri untuk menolong diri sendiri dibidang kesehatan

C.  Sasaran Pengembangan Poskestren
Untuk mempermudah strategi intervensi, sasaran pengembangan Poskestren dibedakan menjadi tiga jenis sasaran, yaitu :
     Semua individu santri, guru serta pengurus pesentren serta keluarganya yang tinggal di lingkungan pesantren, yang diharapkan mampu melaksanakan hidup sehat, serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di lingkungan pesantren.
     Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut, seperti pimpinan pesantren, pengurus yayasan serta petugas kesehatan.
     Pihak-pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan, peraturan, dana, tenaga, sarana dan lain-lain, Camat, para pejabat terkait, swasta, para donatur dan pemangku kepentingan lainnya.

D. Proses Pembentukan Poskestren
Pembentukan poskestren di pesantren diwilayah Puskesmas ini dilaksanakan dengan menggunakan pola pendekatan pengembangan desa siaga yaitu dilaksanakan dengan membantu/memfasilitasi/mendampingi masyarakat pesantren untuk menjalani proses pembelajaran melalui siklus atau spiral pemecahan masalah yang terorganisasi yang dilakukan oleh kader poskestren bersama guru pendamping. Yaitu dengan menempuh tahap-tahap pelaksanaan sebagai berikut :

1.    Sosialisasi Poskestren
Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan pada tanggal yang telah disepakati bersama bertempat di pesantren-pesantren yang akan di dirikan Poskestren. Langkah ini merupakan awal kegiatan, sebelum kegiatan-kegiatan lainnya dilaksanakan. Tujuan langkah ini adalah untuk mempersiapkan para pengurus pesantren, para guru, serta santri, agar mereka tahu dan mau bekerjasama dalam satu tim untuk menjalankan kegiatan poskestren. Dalam langkah ini termasuk kegiatan advokasi kepada pimpinan pesantern, agar mau memberikan dukungan, baik berupa kebijakan, atau anjuran, serta restu, maupun sumber daya lain, sehingga pengembangan poskestren dapat berjalan dengan lancar. Output dari kegiatan ini yaitu adanya dukungan dan antusias dari pengurus, guru maupun santri untuk mendukung kegiatan poskestren ini. Pada kegiatan ini juga sekaligus pemilihan tim masyarakat poskestren serta merekrut kader poskestren dan telah dipilih 10 orang kader yang terdiri dari 5 orang santri dan 5 orang santriwati, serta didampingi juga oleh 4 orang guru.
      Pemilihan Kader Poskestren Pemilihan Pengurus dan kader Desa siaga dilakukan melalui pertemuan khusus para pimpinan pesantren dan dewan guru serta beberapa wakil santri. Pemilihan dilakukan secara musyawarah dan mufakat, sesuai dengan taat cara dan kriteria yang berlaku, dengan difasilitasi oleh pihak Puskesmas.
      Forum Masyarakat Pesantren Adalah sekelompok anggota masyarakat pesantren yang sepakat untuk peduli memecahkan masalah kesehatan, diwilayah pesantren. Tim ini dipimpin oleh seorang ketua dan dibantu oleh sekretaris dan bendahara serta seksi-seksi antara lain, seksi kesehatan lingkungan, seksi perilaku hidup bersih dan sehat, seksi gizi, seksi promosi/penyluhan kesehatan dan seksi kegawatdaruratan kesehatan. Masing masing seksi terdiri dari satu orang koordinator dan dibantu oleh 3 orang anggota. Forum ini secara berkala akan melakukan pertemuan Yang akan membahas segala permasalahan kesehatan yg ada serta mancari solusi pemecahan masalahnya sendiri. Tim Masyarakat pesantren ini juga harus memberikan dan memiliki struktur organisasi untuk program Poskestren ini.

2.    Survey Mawas Diri
Survei Mawas diri (SMD) atau Telaah Mawas Diri (TMD) atau Community Self Survey (CSS) adalah kegiatan pengumpulan dan pengolahan data keadaan/masalah yang berkaitan dengan kesehatan pesantren, seperti masalah kesehatan lingkungan, masalah perilaku (PHBS), masalah gizi dan masalah sarana kesehatan. Tujuan SMD agar kader poskestren mampu melakukan telaah mawas diri dan diperolehnya informasi tentang keadaan/masalah kesehatan yang dihadapi sendiri oleh mereka dipesantrennya. Survei Mawas Diri dilakukan oleh kader-kader sendiri didampingi oleh para guru pendamping dengan bimbingan tenaga kesehatan puskesmas dan fasilitator dari dinas kesehatan, sehingga masalah yang ditemukan benar-benar dirasakan dan disepakati oleh mereka. Dengan demikian, diharapkan mereka menjadi sadar akan permasalahan yang dihadapi di pesantrennya, serta membangkitkan niat atau tekat untuk mencari solusinya. Sebelum dilakukan kegiatan SMD ini sebaiknya terlebih dahulu  dilakukan pertemuan yang bertujuan untuk memberikan pembekalan keterampilan bagi kader serta guru pendamping dalam melakukan SMD. Yaitu membahas tentang :
a)      teknik melakukan SMD,
b)      pengenalan masalah kesehatan lingkungan,
c)      pengenalan masalah kesehatan yang berhubungan dengan perilaku (PHBS),
d)     pengenalan masalah kesehatan yang berkaitan dengan gizi,
e)      pengenalan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan sarana kesehatan seperti, sarana air bersih, tempat pembuangan samapah, pengelolaan limbah pesantren dan jamban/WC.
Keluaran atau output dari SMD ini berupa identifikasi masalah-masalah kesehatan serta potensi dipesantren yang dapat didayagunakan dalam mengatasi masalah- masalah kesehatan tersebut.
NO
MASALAH KESLING
MASALAH BHBS
MASALAH GIZI
MASALAH SARANA
1
Sampah yang berserakan di
lingkungan pesantren
Sisa makanan yg
berserakan di asrama
Masakan yg kurang
masak

tempat lemari yang
sempit sehingga
sulit dibersihkan
2
Kasur tidak dijemur
Sisa makanan tidak
dibersihkan
Masak beras yg
tidak bersih

Ruang asrama tidak
sesuai dengan
jumlah penghuni
3
Lantai asrama jarang di
pel

Pakaian yg sudah
digunakan
bergantungan di dalam
asrama
Mie dijadikan
makanan pokok

Tukang masak
hanya ada 2 orang

4
Air limbah tidak
mengalir kedalam got
sehingga menjadi
sarang nyamuk
Kain basahan mandi
tigunakan bergantian

Mengambil porsi
makanan yg tidak
sesuai

Tempat
masak/dapur
umum kurang
lebar
5
Dilapangan pesantren
banyak batu, lumpur,
dan rumput yang tinggi.
Santri tidur dilantai,
tanpa selimut dan alas
tidur
Menu makanan
kurang bervariasi

Kurangnya tong
sampah

6
Bak mandi jarang di
kuras

Ember sabun, sepatu
dan sandal diletakkan
sembarangan didalam
asrama.
Santri tidak sarapan
pagi

Tidak ada SPAL
7
Kamar mandi berlumut
dan licin

Bantal sering dipakai
bersama-sama


Kotoran
dari
WC
tidak ke septiktank
8
Saluran air mandi
tersumbat oleh sampah

Tidur tidak
menggunakan selimut
dan tanpa obat
nyamuk

Kurangnya
tempat
menjemur pakaian

9
Air tergenang didalam
kelas
Minum segelas berdua

Kurangnya sarana
air bersih/ kran
10
Piring tidak segera
dicuci sebelum dan
sesudah makan
Menghidangkan
makanan tidak ditutup


Di asrama dan di
kelas tidak ada
sumber air
bersih/kran umum
11
Banyak Santri yang
jarang gosok gigi
Mencuci bahan
makanan dengan air
bekas cucian tangan


12

Sesudah BAB tidak cuci
tangan dengan sabun
dan WC tidak di siram
samapai bersih.


13

Ada guru yg merokok
diruangan


14

Pakaian basah dijemur
didalam asrama.


TABEL 1. MASALAH KESEHATAN YANG ADA DI PESANTREN



3.    Pembahasan Hasil SMD
Tujuan penyelenggaraan pembahsan hasil SMD ini adalah mencari masalah prioritas, sehingga mudah untuk menentukan alternatif penyelesaian masalah kesehatan dikaitkan dengan potensi yang dimiliki pesantren. Data serta temuan yang diperoleh pada saat SMD disampaikan , utamanya adalah daftar masalah kesehatan yang ada pada asrama putra dan putri, ruang belajar, dapur umum, sarana air bersih, kamar mandi dan WC serta lingkungan/halaman luar pesantren, hasil pendataan tersebut dimusyawarahkan untuk penentuan prioritas.

4.    Musyawarah Masyarakat Pesantren (MMP)
Tujuan penyelenggaraan Musyawarah Masyarakat Pesantren (MMP) ini adalah menentukan penyebab masalah dan sekaligus mencari alternatif penyelesaian masalah kesehatan dan upaya membangun Poskestren dikaitkan dengan potensi yang dimiliki pesantren. Disamping itu juga untuk menyusun rencana jangka panjang pengembangan poskestren di sebuah pesantren. Inisiatif penyelenggaraan musyawarah harus di dukung atau di rekomendasikan pimpinan pesantren yang telah sepakat mendukung pengembangan poskestren di dalam pesantren. Peserta musyawarah sebaiknya meliputi  pimpinan pesantren, para guru dan kader poskestren yang dihadiri oleh tim dari puskesmas  dan fasilitator dari dinas kesehatan kabupaten jika memungkinkan untuk memperkuat ketentuan kebijakan poskestren tersebut. Data serta temuan lain yang diperoleh pada saat SMD akan dibicarakan dalam pertemuan tersebut, utamanya adalah daftar masalah kesehatan, data potensi, serta harapan masyarakat pesantren, sesuai daftar tabel masalah yang di temukan pada proses SMD. Hasil pendataan tersebut dimusyawarahkan untuk penentuan prioritas, serta langkah-langkah solusi untuk pembangunan Poskestren dan pengembangannya. Untuk bangunan poskestren sebaiknya disepakati dengan menggunakan bangunan yang sudah ada atau apakah akan membangun bangunan baru, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pesantren itu sendiri. Dari hasil musyawarah dapat diambil  kesimpulan beberapa langkah dalam pemecahan masalah kesehatan di pesantren, antara lain:
a.    Merubah perilaku santri dengan cara, seperti :
a)    Membuat daftar piket
b)    Membuat peraturan yang berkaitan dengan perilaku hidup bersih dan sehat serta memberikan menerapkan sangsi bagi yang melanggarnya.
b.    mebuat papan himbauan untuk hidup sehat pada lingkungan pesantren, seperti diruang kelas, dapur umum, masjid, asrama dan lain-lain.
c.    melakukan Gerakan Jumat Bersih (GJB), seperti gerakan menjemur kasur pada tiap hari Jumat serta membersihkan lingkungan pesantren.
d.   menambah Sarana Air Bersih yaitu menyalurkan air bersih dengan menggunakan perpipaan terutama didepan asrama putra dan putri, dapur umum dan ruang belajar.





BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
 Poskestren adalah sebuah program dan sarana yang akan sangat membantu peran Puskesmas didalam merealisasikan prilaku hidup bersih dan sehat dilingkungan pesantren, karena dengan adanya poskestren, pihak Puskesmas bisa mendelegasikan tujuannya kepada para kader-kader yang diambil dari lingkungan pesantren itu sendiri ( santri/wati, guru pengajar dan pengurus pesantren), yang tentunya setelah melalui pembinaan, pelatihan dan pengawasan yang dilakukan secara rutin.

B.  Saran
Sebaiknya seluruh pesantren yang berada dilingkungan kerja setiap puskesmas bisa di bentuk poskestren, karena dengan adanya poskestren tersebut setiap warga pesantren akan mendapatkan pelayanan dan pendidikan yang baik dan terkontrol tentang perilaku hidup bersih dan sehat, sehingga kualitas kesehatan para penghuni pesantren akan meningkat.


  



DAFTAR PUSTAKA


4.      http://www.pesantrenalihsanbe.or.id/index.php?mod=content&act=read&id=15&menu_id=31.html

No comments:

Post a Comment